Sunday, December 25, 2011

COASTAL MORPHOLOGY : BEACH, DELTA, DAN MARSH

 please, after reading an article or would leave this page, leave a comment .>.>. . . (^_^)
A. Beach
A.1 Definisi Daerah Pantai
Pantai merupakan hasil kerja interaksi antara kekuatan hidrodinamika dan tanggapan morfodinamika. Pengertian yang sama mengenai definisi daerah pantai dirasa penting untuk mendapatkan kesamaan pandangan dan arti. Untuk itu, pada bulan Agustus 1992 telah disepakati beberapa definisi yang berkaitan dengan daerah pantai.
  • Pantai adalah daerah di tepi perairan (laut atau danau) sebatas antara surut
  • terendah dengan pasang tertinggi.
  • Daerah Pantai adalah suatu pesisir beserta perairannya di mana pada daerah tersebut masih terpengaruh baik oleh aktivitas darat maupun marine.
  • Pesisir adalah daerah tepi laut yang masih terpengaruh oleh aktivitas ma-rine.
  • Perairan Pantai adalah daerah perairan yang masih terpengaruh oleh akti-vitas daratan.
  • Sempadan Pantai adalah daerah sepanjang pantai yang diperuntukkan bagi pengamanan dan pelestarian pantai
A.2 Pantai
Daerah pinggir laut atau wilayah darat yang berbatasan langsung dengan bagian laut disebut sebagai pantai. Pantai juga bisa didefinisikan sebagai wilayah pertemuan antara daratan dengan lautan. Berdasar kemiringan pantai kita kenal adanya :
  • Pantai landai
  • Pantai curam dengan tingkat kemiringan > 600
Pantai landai dapat dikelompokkan menjadi :
  • Kelompok tingkat kemiringan antara 00 - 300
  • Kelompok tingkat kemiringan antara 300 - 450
  • Kelompok tingkat kemiringan antara 450– 600
Gambar 1 perubahan tipe profil beach pada terjadi badai. Angin topan Luis pada tahun 1995 (Cambers, 1998), terhitung bahwa rata-rata adalah 28 % di 7 pulau karibia, meskipun sedikit terrecover setelah topan
A.3 Lingkungan Laut
Laut adalah bagian bumi kita yang tertutup oleh air asin. Laut lepas dan luas yang dibatasi oleh benua-benua dikenal sebagai samudra. Bentuk dasar laut yang majemuk tersebut beserta lingkungan air di atasnya memberikan kemungki-nan munculnya keanekaragaman hayati yang tinggi, dengan sebaran yang luas ba-ik secara mendatar maupun secara menegak. Sekarang banyak ilmuan kelautan mengetahui bahwa di setiap lapisan laut sampai ke dasar laut yang sangat jeluk atau dasar abisal pun selalu terdapat kemungkinan adanya kehidupan
Gambar 2 Klasifikasi Tipologi atau Pantai Menurut Shepard (1958, dalam King, 1972)
A.4 Jenis Pantai
A.4.1 Pantai Berlumpur
Pantai berlumpur tidak dapat berkembang dengan hadirnya gerakan gelo-mbang. Karena itu, pantai berlumpur hanya terbatas pada daerah intertidal yang benar-benar terlindung dari aktivitas gelombang laut terbuka.
A.4.2 Pantai Berbatu
Pantai berbatu yang tersusun dari bahan yang keras merupakan daerah yang paling padat makroorganismenya dan mempunyai keragaman terbesar baik untuk spesies hewan maupun tumbuhan. Gambaran pada pantai berbatu adalah menonjolnya pembagian horizontal atau zonasi organisme
A.4.3 Pantai Berpasir
Selama kondisi gelombang biasa, pantai dalam keadaan keseimbangan dinamis. Berikut faktor-faktor yang menentukan kondisi lingkungan pantai berpasir :
1.) Gerakan ombak dan pengaruh yang meyertainya pada ukuran partikel.Ukuran partikel pasir di pantai merupakan fungsi dari gerakan ombak di pantai itu. Jika gerakan kecil, ukuran partikel kecil pula, tetapi jika gerakan ombak besar dan kuat, partikel-partikel akan menjadi kasar dan membentuk deposit kerikil. Kepentingan ukuran partikel bagi penyebaran organisme dan kelimpahannya terletak pada pengaruhnya terhadap retensi air dan kesesuaiannya untuk digali. Butiran pasir yang halus, melalui gaya kapilernya, cenderung untuk menam-pung lebih banyak air di atas tingkat pasang-surut. Pasir yang kasar dan keri-kil, berlaku sebaliknya, cepat mengalirkan air ketika surut. Gerakan ombak merupakan faktor lingkungan yang dominan beraksi di pantai pasir, memben-tuk kondisi khusus sehingga banyak organisme sukar atau tidak dapat tinggal di daerah itu
2.) Pergerakan substrat. Partikel-partikel pasir atau kerikil tidak cukup besar untuk tetap stabil jika ada ombak. Akibatnya, setiap ombak memukul, pertikel-par-tikel substrat akan terangkut, teraduk dan terdeposisit kembali. Oleh karena itu, partikel-partikel bergerak dan dipisah-pisahkan secara teratur. Alasan mengapa pantai berpasir halus hanya terjadi jika gerakan ombak kecil, dan berkerikil jika ombak besar adalah karena pada waktu ombak besar, partikel-partikel yang lebih kecil melayang cukup lama hingga mereka terbawa jauh keluar dari pantai. Kebanyakan pantai-pantai menunjukkan suatu gradasi uku-ran partikrl dari yang berukuran halus di dekat titik pasang-turun ke yang ber-ukuran besar pada titik pasang-naik. Perubahan profil ini umumnya musiman dan terjadi di banyak pantai zona beriklim sedang, di mana kemiringan pasir halus yang landai muncul selama musim panas dan digantikan oleh pasir kasar yang kemiringannya curam selama badai musim dingin (Nybakken, 1988).
Pantai pasir biasanya mempunyai profil lebih seragam dan rata sehingga keragaman topografiknya lebih kurang dibandingkan denagn pantai berbatu. Akibatnya, faktor lingkungan seperti suhu, kekeringan, gerakan ombak dan isolasi beraksi secara seragam pada tiap tingkat (ketinggian) pasang-surut pantai (Nybakken, 1988).
3). Kandungan oksigen. Oksigen tidak pernah menjadi faktor pembatas dalam air yang membasahi pantai, karena turbulensi ombak menjamin kejenuhan yang konstan. Kandungan oksigen dapat menjadi pembatas didalam substrat itu sendiri (Nybakken, 1988).
Table 1 Matrik Penentuan Tipe Pantai Berdasarkan Klasifikasi dari Shepard (1958, dalam King, 1972)
Sumber : Shepard (1958) dengan modifikasi
A.5 Pantai dan Pesisir
Daerah pinggir laut atau wilayah darat yang berbatasan langsung dengan bagian laut disebut sebagai pantai. Pantai juga bisa didefinisikan sebagai wilayah pertemuan antara daratan dengan lautan. Lebih lanjut pengertian pesisir bisa dija-barkan dari 2 segi yang berlawanan :
- Dari segi daratan
Pesisir adalah wilayah daratan sampai wilayah laut yang masih dipengaruhi sifat-sifat darat.
- Dari segi laut
Pesisir adalah wilayah daratan sampai wilayah laut yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut. Dalam literature barat sering dikenal 2 istilah, yaitu coast dan shore yang biasa diterjemahkan kedalam bahasa indonesia sebagai pantai. Sebenarnya antara dua kosakata tersebut terdapat perbedaan pengertian sebagai berikut :
  • Coast : Wilayah pantai yang kering atau disebut sebagai pesisir
  • Shore : Wilayah pantai yang basah termasuk daerah pasang surut.
Dikenal ada beberapa tipe pantai, antara lain :
  • Pantai pasir
  • Pantai pasir Lumpur
  • Pantai pasir karang
  • Pantai karang
Pantai berbatu elombang, sejumlah besar pasir bergerak pada profil pantai, tetapi angkutan netto pada suatu lokasi yang ditinjau sangat kecil. Saat terjadi badai, terlihat perubahan profil pantai. Dengan membandingkan profil pantai seb-elum dan sesudah badai, dapat diketahui volume sedimen yang tererosi dan mun-durnya garis pantai
A.6 Batas–batas Pantai
Daerah peralihan antara daratan dan lautan sering ditandai dengan adanya perubahan kedalaman yang berangsur-angsur. Disini dapat dikenal dan dibedakan adanya tiga buah daerah.
1. Continental Shelf
Suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai (kemiringan kira-kira sebe-sar 0,4 %) dan berbatasan langsung dengan daerah daratan.
2. Continental Slope
Suatu daerah yang mempunyai lereng yang lebih terjal dari continental shelf, dimana kemiringannya bervariasi antara 3%-6%.
3. Continental Rise
Daerah ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang kemudian perla-han-lahan menjadi datar pada dasar lautan
A.7 Proses Erosi Pantai
Pantai adalah gambaran nyata interaksi dinamis antara air, angin, dan ma-terial (tanah). Angin dan air yang bergerak membawa material dari tempat satu ke tempat lain, mengikis tanah dan kemudian mengendapkannya di suatu tempat secara kontinyu sehingga terjadi perubahan garis pantai. Energi yang diperoleh untuk gerak air dan angina sebagian berasal dari pemanasan sinar matahari dan sebagian lagi berasal dari gaya-gaya gravitasi matahari, bulan dan bumi. Angin atau udara yang berpindah terjadi akibat adanya perubahan tekanan udara (Pratikto, 1997).
Rentang (range) pasang surut dan kekuatan arus pasang surut ditentukan oleh kombinasi efek gravitasi matahari, bulan dan bumi. Misalnya, ‘spring tide’ yang terjadi ketika kombinasi matahari dan bulan hampir segaris, akan meng-hasilkan efek pasang tertinggi dan surut terendah. Gelombang terjadi karena hem-busan angin di permukaan air. Daerah di mana gelombang dibentuk disebut dae-rah pembangkitan gelombang (wave generating area). Ketika gelombang menja-lar, partikel air bergerak dalam suatu lingkaran vertikal kecil dan tetap pada po-sisinya selagi bentuk dan energi gelombang berjalan maju. Pada saat gelombang mendekati pantai, gelombang mulai bergesekan dengan dasar laut dan menyebab-kan pecahnya gelombang di tepi pantai. Hal ini menyebabkan terjadinya turbulen-si yang kemudian membawa material dari dasar pantai atau menyebabkan terki-kisnya bukit-bukit pasir (dunes) di pantai
Jenis-jenis atau tipe pantai berpengaruh pada kemudahan terjadinya erosi pantai. Berikut adalah penggolongan pantai di Indonesia berdasarkan tipe-tipe pa-paran (self) dan perairan:
1) Pantai Paparan
Merupakan pantai dengan proses pengendapan yang dominan. Umum terdapat di pantai utara Jawa, pantai timur Sumatra, pantai Selatan dan Timur Kaliman-tan, dengan karateristik:
a. Muara sungai memiliki delta, airnya keruh mengandung lumpur dan terdapat proses sedimentasi.
b. Pantainya landai dengan perubahan kemiringan (hingga kea rah laut) yang bersifat gradual dan teratur.
c. Daratan pantainya dapat lebih dari 20 km.
2) Pantai Samudera
Merupakan pantai di mana proses erosi lebih dominant. Umum terdapat di pan-tai selatan Jawa, pantai barat Sumatra, pantai utara dan timur Sulawesi, dan pa-ntai utara Irian jaya, dengan karakteristik:
a. Muara sungai berada dalam teluk
b. Batas antara daratan pantai dan garis pantai sempit
c. Kedalaman pantai ke arah laut berubah tiba-tiba (curam).
3) Pantai Pulau
Merupakan pantai yang melingkari/mengelilingi pulau kecil. Dibentuk oleh endapan sungai, batu gamping, endapan gunung berapi dan endapan lainnya. Umum terdapat di Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu, Kepulauan Nias dan Sangihe Talaud
Di Indonesia terdapat enam tipe pantai, yaitu :
a) Wave Erosion Coast
b) Coast Built by Organism
c) Volcanic Coast
d) Marine Deposition Coast
e) Structurally Shaped Coast
f) Sub-aerial deposition Coast
a. Wave Erosion Coast
Pantai dengan tipologi Wave Erosion Coast merupakan pantai yang umumnya terbentuk akibat aktivitas erosi gelombang. Karakteristik fisik (abiotik) ditandai dengan bentuk morfologi pantai yang terjal (cliff), lereng berteras dan berbukit. Sesuai dengan tipologi pantai tersebut, proses geomorfologi yang dominan adalah berupa abrasi gelombang dan umumnya airtanah sulit dijumpai, apalagi di musim kemarau kesan kekeringan sangat terasa. Gelombang laut umumnya sedang hingga kuat, hingga banyak disukai oleh peselancar untuk bermain papan selancar. Pada lokasi ini banyak dijumpai fauna jenis reptil seperti ular kobra dan kera.
Pantai dengan tipologi Wave Erosion Coast dapat dijumpai di Pura Ulu-watu yang berbukit terjal, dimana Pura Uluwatu merupakan salah satu pura suci bagi umat Hindu yang berada pada tebingdi tepi pantai yang terjal.
b. Coast Built by Organism
Tipe pantai ini dibentuk oleh organisme laut, sehingga terlihat dataran pantai yang relatif luas, berwarna keputihan, dan diselang-seling oleh bongkahan organisme laut yang sudah membatu. Tanaman bakau relatif banyak ditemui, ha-nya saja tutupannya masih tergolong rendah. Rumput laut dan bintang-bintang ka-rang dan atau binatang-binatang kecil pantai banyak terdapat di pantai yang ter-bentuk oleh organisme laut ini.
Tipe pantai ini dapat dijumpai di Tanjung Panto, wilayah Kecamatan Ma-lingping, Propinsi Jawa Barat.
c. Volcanic Coast
Tipologi pantai Volcanic Coast merupakan pesisir yang terbentuk sebagai akibat proses volkanik. Tipe pantai seperti ini biasanya platformnya landai dan memungkinkan tumbuhnya karang, sehingga lautnya cukup jernih seperti dijum-pai di Pantai Pasir Putih, Situbondo. Air laut relatif tenang dengan ketersedian airtanah yang cukup baik dan tidak asin.
d. Marine Deposition Coast
Tipologi pantai Marine Deposition Coast adalah pantai atau pesisir yang dibentuk oleh proses deposisi material sedimen marin. Termasuk dalam kategori ini adalah pesisir berpenghalang (barrier coast), seperti barrier beaches, barrier is-land, barrier spits and bays, cuspate foreland, beach plains, coastal sand plains tanpa lagoon, dan rataan lumpur (mud flat) atau rawa garam (salt marsh).
Karakteristik fisik (abiotik) ditandai dengan bentuk morofologi pantai yang lurus dan datar. Sesuai dengan tipologi pantai tersebut, proses geomorfologi yang dominan adalah proses deposisi (pengendapan) material-material laut yang berasal dari aktivitas laut maupun rombakan karang. Gelombang dan arus pantai umumnya relatif tenang, sehingga dapat dimanfaatkan untuk berlabuh.
e. Structurally Shaped Coast
Tipologi structurally shaped coast yaitu pesisir yang terbentuk akibat proses patahan, lipatan, atau intrusi batuan sedimen, seperti kubah garam atau kubah lumpur dangkal (salt domes atau mud lumps). Karakteristik fisik tipe pantai structurally shaped coast, ditandai dengan bentuk morfologi pantai yang tidak teratur dan terjal.
Tipologi pantai ini dapat dijumpai di Probolinggo (Gunung Bentar) yang merupakan bagian dari lipatan tengah perbukitan Kendeng.
f. Sub-aerial deposition Coast
Pantai dengan tipologi sub-aerial depositon coast, merupakan pantai yang umumnya terbentuk akibat akumulasi bahan-bahan sedimen sungai yang mem-bentuk delta dengan rataan pasang surut (tidal flat). Karakteristik fisik (abiotik) ditandai dengan bentuk morofologi pantai yang datar dan lurus. Sesuai dengan tipologi pantai tersebut, proses geomorfologi yang dominan adalah deposisi (pe-ngendapan) material-material yang berasal dari aktivitas sungai-sungai.
B. Delta
Pengertian delta adalah sebuah lingkungan transisional yang dicirikan oleh adanya material sedimen yang tertransport lewat aliran sungai (channel), kemudian terendapkan pada kondisi di bawah air (subaqueous), pada tubuh air tenang yang diisi oleh aliran sungai tersebut, sebagian lagi berada di darat /subaerial
Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen sungai pada danau atau pantai. Delta merupakan sebuah lingkungan yang sangat kom-pleks dimana beberapa faktor utama mengontrol proses distribusi sedimen dan morfologi delta, faktor-faktor tersebut adalah energi sungai, pasang surut, gelom-bang, iklim, kedalaman air dan subsiden (Tucker, 1981). Untuk membentuk sebuah delta, sungai harus mensuplai sedimen secara cukup untuk membentuk akumulasi aktif, dalam hal ini prograding system. Hal ini berarti bahwa jumlah sedimen yang diendapkan harus lebih banyak dibandingkan dengan sedimen yang tidal ridges, beaches, eolian dunes, swamps, marshes dan evavorites flats (Coleman& Prior, 1982).
Delta terbentuk di hampir semua benua di dunia (kecuali di Antarika dan Greenland, yang daerahnya tertutup salju), dimana terdapat pola penyaluran sungai dengan dimensi yang luas dan jumlah material sedimen yang besar (Boggs, 1987). Pada umumnya, delta akan terbentuk apabila material sedimen dari daratan yang terangkut lewat sungai dalam jumlah yang besar masuk ke dalam suatu tubuh air yang tenang (standing body water). Sebagian material yang terendapkan di muara sungai tersebut terendapkan pada kondisi subaerial
Proses pengendapan pada delta menghasilkan pola progradasi yang menyebabkan majunya garis pantai. Litologi yang dihasilkan umumnya mem-punyai struktur gradasi normal pada fasies yang berasosiasi dengan lingkungan laut (marine facies). Dalam pembentukan delta, material sedimen yang dibawa oleh sungai merupakan faktor pengontrol utama.
B.1 Faktor Pengontrol Delta
Pembentukan delta dikontrol oleh interaksi yang rumit antara berbagai factor yang berasal/bersifat fluviatil, proses di laut dan kondisi lingkungan pengendapan. Faktor-faktor tersebut meliputi iklim, pelepasan air, muatan sedi-men, proses yang terjadi di mulut sungai, gelombang (wave), pasang surut (tide), arus, angin, luas shelf, dan lereng (slope), tektonik, dan geometri cekungan pe-nerima (receiving basin) akan mengontrol distribusi, orientasi, dan geometri inter-nal endapan delta
Hanya beberapa proses saja yang tergolong sangat penting dalam mengon-trol geometri, proses internal yang bersifat progradasi pada delta (progradational framework) serta kecenderungan arah penyebaran (trend) delta, yaitu : pasokan sedimen, tingkat energi gelombang, dan tingkat energi pasang surut (Galloway, 1975; Galloway & Hobday, 1983 vide Boggs, 1987). Ketiga faktor inilah yang nantinya akan sangat berperan dalam penggolongan delta ke dalam tiga tipe dasar delta yang sangat fundamental yaitu (1) fluvial-dominated, (2) tide-dominated, dan (3) wave-dominated (Boggs, 1987). Adanya dominasi diantara salah satu factor pengontrol tersebut akan mempengaruhi geometri delta yang terbentuk. Menurut Curray (1969) delta memiliki beberapa bentuk yang umum, yaitu :
1. Birdfoot: Bentuk delta yang menyerupai kaki burung
2. Lobate : Bentuk delta seperti cuping
3. Cuspate: Bentuk delta yang menyerupai huruf (v)
4. Arcuate: Bentuk delta yang membundar
5. Estuarine : Bentuk delta tidak dapat berkembang dengan sempurna
Pada tahun 1975, M.O Hayes (Allen & Coadou, 1982) mengemukakan sebuah konsep tentang klasifikasi coastal yang didasarkan pada hubungan antara kisaran pasang surut (mikrotidal, mesotidal dan makrotidal) dan proses sedimentologi. Pada tahun 1975, Galloway menggunakan konsep ini dalam penerapannya terhadap aluvial delta, sehingga disimpulkan klasifikasi delta berdasarkan pada dominasi energinya, yaitu :
  • Delta sungai (fluvial-dominated delta)
  • Delta pasang-surut (tide-dominated delta)
  • Delta ombak (wave-dominated delta)
B.2 Klasifikasi Delta
Klasifikasi merupakan suatu usaha pengelompokkan berdasarkan kesa-maan sifat, fisik yang dapat teramati. Dalam hal klasifikasi delta, ada beberapa klasifikasi yang sering digunakan. Klasifikasi delta yang sering digunakan adalah klasifikasi menurut Galloway, 1975 dan klasifikasi menurut Fisher, 1969 .
Dalam klasifikasi Galloway (1975) ditampilkan beberapa contoh delta di dunia yang mewakili tipikal proses yang relatif dominan bekerja membentuk setiap tipikal delta, sebagai contoh fluvial dominated delta akan membentuk delta yang berbentuk elongate contohnya adalah Delta Missisipi, kemudian tide dominated delta akan membentuk delta yang berbentuk estuarine contohnya Delta Gangga- Brahmaputra, selanjutnya wave dominated delta akan menghasilkan delta yang berbentuk cuspate contohnya Delta San Fransisco. Namun, pada dasarnya setiap delta yang terdapat di dunia tidaklah murni dihasilkan oleh dominasi salah satu faktor pengontrol di atas, namun lebih merupakan hasil interaksi antara dua atau bahkan tiga faktor pengontrol, sebagai contoh Delta Mahakam dan Delta Ebro yang berbentuk lobate yang dihasilkan utamanya dari proses fluvial dan tidal dengan sedikit pengaruh gelombang (wave).
Selain klasifikasi menurut Galloway, juga terdapat klasifikasi menurut Fisher (1969). Dalam klasifikasi ini, Fisher menyimpulkan bahwa proses pembentukan delta dipengaruhi oleh dua faktor pengontrol utama yaitu proses flu-vial dan pasokan sedimen, serta proses asal laut (marine processes). Berdasarkan dominasi salah satu faktor tersebut, Fisher dalam klasifikasinya membagi delta menjadi dua kelompok yaitu delta yang bersifat high constructive, apabila proses fluvial dan pasokan sedimen yang dominan mengontrol pembentukan delta dan delta yang bersifat high desctructive apabila proses asal laut yang lebih dominan.
Tabel 2 Karakteristik sikuen pengendapan delta

River Dominated
Wave Dominated
Tide Dominated
Geometry
Elongate to Lobate
Arcuate
Estuarine to Irregular
Channel Type
Straight to Sinuous Distributaries
Meandering Distributaries
Flaring Straight to Sinuous Distributaries
Bulk Composition
Muddy to Mixed
Sandy
Variable
Framework Facies
Distributary Mouth Bar and Channel Fill Sands, Delta Margin Sand Sheet
Coastal Barrier and Beach Ridge Sands
Estuary Filland Tidal Sand Ridges
Framework
Parallels
Parallels
Parallels
Orientation
Depositional Slope
Depositional Slope
Depositional Slope
B.3 Sublingkungan Pengendapan Delta
Secara umum, delta dapat dibagi menjadi beberapa sublingkungan antara lain delta plain yang terdiri dari upper delta plain dan lower delta plain dan subaqueos delta plain yang terdiri dari delta front dan prodelta (Serra, 1985).
- Delta Plain
Merupakan bagian delta yang berada pada bagian lowland yang tersusun atas active channel dan abandoned channel .yang dipisahkan oleh lingkungan perairan dangkal dan merupakan permukaan yang muncul atau hampir muncul. Delta Plain dicirikan oleh suatu distributaries dan interdistributaries area. Proses sedimentasi utama di delta plain adalah arus sungai, walaupun arus tidal juga muncul.
Pada daerah dengan iklim lembab, Delta plain mungkin mengandung komponen organik penting (gambut yang kemudian menjadi batubara). Gambut merupakan kemenerusan dari paleosol ke arah downdip (terletak pada bidang kronostratigrafi yang sama) yang mewakili suatu periode panjang terbatasnya influx sedimen klastik.
Delta plain dapat dibagi menjadi :
1. Upper delta plain
Merupakan bagian delta yang berada di atas area pengaruh pasang surut (tidal) dan laut yang signifikan (pengaruh laut sangat kecil). Pada lingkungan upper delta plain dapat dijumpai beberapa macam endapan antara lain :
a. Endapan distibutary channel.
Endapan ini tersusun atas yaitu endapan braided dan endapan point bar dengan struktur sedimen umunya berupa cross bedding, ripple cross stratification, scour dan fill, dan lensa-lensa lempung. Distributary channels membentuk percabangan landas laut yang saling berhubungan memotong delta plain dan membawa sedimen fluvial ke pantai. Kedalaman distributay channels dapat mencapai 10–20 meter dan mengerosi lapisan bawahnya yang merupakan endapan laut atau lacustrine delta front. Distributary channels mengakumulasi endapan pasir dan membentuk reservoar yang baik. Geometri endapan distributary channels sangat bervariasi dan tergantung pada tipe sistem fluvial dan pembebanan alami sedimen sungai.
b. Endapan Lacustrine delta Fill dan endapan interdistributary flood plain
Endapan ini umumnya berupa endapan gambut air tawar (freshwater peat). Interdistributary area umumnya berubah dari kondisi freshwater, brackish, dan kemudian menjadi lingkungan saline ke arah downdip (seperti transisi dari rawa (swamp) ke Marsh). Lingkungan ini mempunyai kecepatan arus paling kecil, dangkal, tidak berelief dan proses akumulasi sedimen lambat. Struktur sedimen yang dapat dijumpai adalah laminasi paralel dan struktur burrowing. Interdistributary terdiri dari sedimen berukuran halus, seperti silts, mud dan carbonaceous clay.
2. Lower Delta Plain
Sublingkungan ini terletak pada interaksi antara sungai dan laut yang terbentang mulai dari batas surutnya muka air laut yang paling rendah hingga batas maksimal air laut pada saat pasang. Endapan pada lower delta plain terdiri atas:
a. Endapan pengisi teluk (bay fill deposit)
Endapan ini meliputi endapan sedimen interdistributary bay, tanggul alam (leeve), rawa (swamp), dan crevasse splay.
b. Endapan pengisi distributary yang ditinggalkan (abandoned Distributary Deposits)
Pada bagian bawah endapan ini umumnya akan tersusun oleh material berukuran pasir dengan sortasi yang buruk dan lanau yang banyak mengandung bahan organik hasil rombakan. Sementara itu, pada bagian atasnya akan terendapakan material yang berukuran lebih halus.
Gambar 3 Skema klasifikasi delta menurut Galloway (1975)
- Delta Front
Delta front merupakan sublingkungan dengan energi tinggi, dimana sedimen secara konstan dirombak oleh arus pasang surut (tidal), arus laut sepanjang pantai (marine longshore current) dan aksi gelombang (kedalaman 10 meter atau kurang). Endapan pada delta front meliputi sheet sand delta front, distributary mouth bar, endapan river-mouth tidal, near shore, longshore, dan endapan stream mouth bar. Delta front terdiri dari zona pantai dangkal yang berbatasan dengan delta plain.
Delta front ditunjukkan oleh suatu sikuen yang coarsening upward berskala besar yang merekam perubahan fasies vertikal ke arah atas dari sedimen offshore berukuran halus atau fasies prodelta ke fasies shoreline yang biasanya didominasi batupasir. Sikuen ini dihasilkan oleh progradasi delta front dan mungkin terpotong oleh sikuen fluvial distibutary channel atau tidal distributary channel saat progradasi berlanjut (Serra, 1985).
- Prodelta
Prodelta merupakan lingkungan transisi antara delta front dan endapan marine shelf. Merupakan bagian dari delta di bawah kedalaman efektif erosi gelombang, terletak di luar delta front dan menurun ke lantai cekungan sehingga tidak ada pengaruh gelombang dan pasang surut dimana terjadi akumulasi mud, umumnya dengan sedikit bioturbasi . Sedimen yang ditemukan pada bagian delta ini tersusun oleh material sedimen berukuran paling halus yang terendapkan dari suspensi.
Struktur sedimen masif, laminasi, dan burrowing structure. Seringkali dijumpai cangkang organisme bentonik yang tersebar luas, mengindikasikan tidak adanya pengaruh fluvial (Davis, 1983). Endapan prodelta terdiri dari marine dan lacustrine mud yang terakumulasi dilandas laut (seaward). Endapan ini berada di bawah efek gelombang, pasang surut dan arus sungai.
Komponen-komponen yang terbentuk di lingkungan pengendapan delta dapat dibagi seperti berikut ini :
1. Channel
Merupakan saluran utama sungai dimana material sedimen diangkut dan diendapkan, umumnya endapan channel berukuran cukup tebal di bagian tengah tubuhnya dan menipis ke arah tepinya. Channel dapat dibagi menjadi tidal channel, distributary channel dan interdistributary channel tergantung pada letak keberadaanya.
2. Bar
Bar merupakan endapan pada bagian sungai dengan energi pengangkutan material sedimen makin berkurang dan akhirnya habis sehingga endapannya membentuk perhentian dari alur sungai. Bar bisa berada pada titik-titik yang cukup tajam (point bar) maupun di muara sungai (mouth bar) dan di bagian yang mengalami pasang surut (Tidal bar). Umumnya endapan bar dicirikan oleh penyebarannya yang cukup luas dan ketebalannya kecil atau tipis.
3. Crevasse Splay
Crevasse Splay merupakan limpahan sepanjang channel, terjadi pada saat ketinggian permukaan air sungai yang membawa material sedimen melebihi tinggi tanggul sungai. Ciri endapan ini umumnya dengan ukuran butir pasir sedang–pasir halus, derajat keseragaman butirnya buruk, endapan tidak tebal dan penyebarannya melebar.
C. Marsh
Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam setahun, selalu jenuh air (saturated) atau tergenang (waterlogged) air dangkal. Dalam pustaka, lahan rawa sering disebut dengan berbagai istilah, seperti “swamp”, “marsh”, “bog” dan “fen”, masing-masing mempunyai arti yang berbeda.
Marsh adalah rawa yang genangan airnya bersifat tidak permanen, namun mengalami genangan banjir dari sungai atau air pasang dari laut secara periodik, dimana debu dan liat sebagai muatan sedimen sungai seringkali diendapkan. Tanahnya selalu jenuh air, dengan genangan relatif dangkal. Marsh biasanya ditumbuhi berbagai tumbuhan akuatik, atau hidrofitik, berupa “reeds” (tumbuhan air sejenis gelagah, buluh atau rumputan tinggi, seperti Phragmites sp.), “sedges” (sejenis rumput rawa berbatang padat, tidak berbuluh, seperti famili Cyperaceae), dan “rushes” (sejenis rumput rawa, seperti purun, atau “mendong”, dari famili Juncaceae, yang batangnya dapat dianyam menjadi tikar, topi, atau keranjang). Marsh dibedakan menjadi "rawa pantai" (coastal marsh, atau salt-water marsh), dan "rawa pedalaman" (inland marsh, atau fresh water marsh)

ingat nie cman bwt blajar,, jgn copas bwt tgas,,, ksihan yg dah bikin,,,!!!!!
sblum kweluar tlong kasih komentar.....^_^

okekekke.. qt mulai lg yuk,, dah lama g buka blog..

info pa enaknya,, ehm,, kmungkinan 3 hari kdpan akan q posting biologi ma geologi,,,

Monday, February 7, 2011

KIMIA LINGKUNGAN
KIMIA AIR


please, after reading an article or would leave this page, leave a comment .>.>. . . (^_^)
 
Kimia air (aquatic chemistry):
  • Sungai, danau, laut, air tanah, air permukaan
  • Distribusi dan sirkulasi bahan kimia dlm perairan
  • Reaksi kimia dlm air
Air : - cair : laut dan samudra
- gas : uap air di atmosfer
- padat : es (kutub)

Air: 1. Air permukaan : danau, sungai, laut, mengandung banyak nutrisi
2. Air tanah (ground water) : terjadi proses penyaringan oleh tanah
Air yg digunakan adallah air permukaan tawar & air murni atau dr lautan.

Kebutuhan air meningkat : pertambahan populasi penduduk
Kenaikan taraf hidup : RT, industri, pertanian

SIFAT-SIFAT AIR
Air : penyusun > 70% bobot hampir semua kehidupan
Kehidupan pertama berasal dr air, shg air adl induk dr kehidupan.
Perbandingan sifat fisik air dgn zat lain

Titik lebur (oC)
Titik didih (oC)
Panas penguapan (kal/g)
Air
0
100
540
Metanol
- 98
65
263
Etanol
- 117
78
204
Propanol
- 127
97
164
Aseton
- 95
56
125
Heksana
- 98
69
101
Benzena
6
80
94
Kloroform
-63
61
59

Sifat khas air disebabkan oleh ikatan hidrogen yg terbentuk antar molekul shg air mempunyai gaya kohesi internal yg tinggi. Sbg contoh panas penguapan mrpk ukuran jml energi yg diperlukan utk mengalahkan gaya tarik menarik antar molekul yg berdekatan dan masuk ke fs gas.
Gaya tarik antar molekul air disebkan oleh struktur molekul air. Atim O mengalami hibridisasi orbital s dan p membentuk orbital sp3 yg berbentuk tetrahedral, dengan sudut HOH 104,5o. 2 lone pair electron menyebabkan atom O bermuatan negatif (-). Di samping itu elektronegativitas atom O jg relatif besar (3) sehingga cenderung menarik elektron dr H. akibatnya atom H bermuatan positif (+) sehingga molekul air membentuk dipol listrik dan bersifat polar. Akibat selanjutnya atom H yg bermuatan positif akan berikatan dgn atom O yg bermuatan positif dr molekul lain membentuk ikatan hidrogen.


Tiap molekul air maksimum dpt berikatan dgn 4 molekul air sekitarnya (masing2 1 utk tiap H dan 2 pada atom O). Energi ik H relatif kecil, 4,5 kkal/mol (ik kovalen)110 kal/mol). Waktu paruh ik H adl 10-9 dt shg air tidak bersifat kental.
Dlm air rata2 1 molekul air mengikat 3,4 molekul lain, & oleh krn air cenderung utk bergerak mk ikatan hodrogen terbentuk dan terputus secara terus menerus. Sedangkan dlm es 1 molekul air berikatan dgn 4 molekul lain. Kristal garam spt NaCl segera terlarut dlm air, tp tdk larut dlm pelarut organik spt kloroform. Kristal garam dipertahankan oleh interaksi elektrostatik antara ion Na+ dgn Cl-. Jika NaCl dimasukkan ke dlm air mk, kutub dipolar air akan tertarik kepd ion2 tersebut dan menariknya ke luar dr kisi kristal membentuk ion hidrat Na+ dan Cl-.

Sifat-Sifat Penting Air:
No
Sifat
Efek dan kegunaan
1
Pelarut yg sangat baik
Transport zat makanan dan sisa metabilisme yg dihasilkan proses biologis
2
Konstante dielektrik tinggi
Kelarutan dan ionisasi senyawa ionik tinggi
3
Tegangan permukaan tinggi
Faktor pengendali dlm sistem biologis, menetes (beda dgn minyak)
4
Transparan thd cahaya tampak & sinar dgn  > UV
Tdk berwarna, cahaya dpt mencapai kedalaman tertentu dlm badan air
5
Density tertinggi pd 4 oC
Es mengapung, tjd sirkulasi vertikal shg menghambat stratifikasi badan air
6
Panas penguapan tinggi
Perpindahan poanas dan molekul air antara atmosfer dan badan air
7
Kapasitas panas tinggi
Stabilisasi suhu biota dan suatu wilayah geografis
8
Panas fusi tinggi
Temperatur stabil pada titik beku
Sumber : manahan dan Rukaesih Achmad


SIFAT-SIFAT UNIK BADAN AIR
  1. KOMPOSISI KIMIAWI
Konsentrasi materi anorganik dalam air laut dan air alami umumnya sangat kecil, hanya beberapa anion dan kation yg konsentrasinya lebih dari 10-5 M.

Konsentrasi total bahan bahan organik dalam air alam antara 1 – 10 mg/L, sedang dlm air laut hanya 0,5 – 2,0 mg/L. perbandingan senyawa organik utama (protein, polisakarida dan humat) sama antara air alam dan air laut.
Untuk membedakan antara partikel terlarut dan tersuspensi biasanya dilakukan dgn cara menyaring mengunbakan kertas saring berdiameter 0,45 m. partikel yg dpt melewati kertas saring biasanya dsb terlarut, ttpi sulit untuk untuk mengelompokkan partikel berdasarkan ukurannya :
  1. ukuran partikel bervariasi dari skala nm (ion terhidrasi = beberapa Ao) sampai 100 m, partikel antara 1 nm sampai 1 m biasa dsb koloid.
  2. pd sat penyaringan, beberapa partikel yg lebih kecil dr pori dpt di tahan, tidak lolos krn tjd koagulasi pd permukaan kertas saring
dari keseluruhan unsur kimia yg ada, hanya 12 unsur merupakan komponen utama baik berupa partikel terlarut, koloid, tersuspensi, organik maupun anorganik yaitu H, Na, Mg, K, Ca, B, Al, C, Si, N, O, S, Cl. Meskipun unsur lain berada dlm jml kecil tetapi juga mempunyai fs penting misalnya essensial bagi kehidupan (Cu, Zn, Fe) atau toksik (Hg, Cd)

  1. REGULASI MAJOR ELEMENT DLM SISTEM AKUATIK
  1. STRATIFIKASI DANAU
Danau, laut, estuari tdk homogen secara vertikal, tetapi membentuk strata horizontal. Secara umum stratifikasi danau adalah sbb :
Bahan organik dan anorganik dari sungai dpt mengalami 3 kemungkinan :
      1. membentuk biomassa melalui fotosintesis
      2. keluar bersama aliran air
      3. tersedimentasi.
Bahan organik akan terdegradasi (oksidasi) dlm lapisan dalam yg memerlukan oksigen. Adanya gradien suhu dan density menyebabkan hanya tjd sedikit percampuran antara lapisan permukaan dengan lapisan dalam.

Produktivitas biologi
Dlm kebanyakan badan air, plankton dan bakteri merupakan penyusun utama biomassa. Krn pertumbuhan phytoplankton tergantung pd cahaya matahari mk biasanya terakumulasi pd bagian atas badan air. Zooplankton yg mengkonsumsi phytoplankton juga lebih terkonsentrasi di permukan atas.

Stratifikasi fisik
Pd bagian dalam danau (> 10 m), radiasi cahaya matahari sudah berkurang shg suhu badan air relatif stabil, sedangkan suhu di permukaan bervariasi tergantung musim. Densitas air tertinggi tjd pd suhu 4 oC shg air permukaan tidak bercampur dgn bagian dalam, shg seolah-olah danau terdiri dr 2 perairan yg berbeda.

Pertukaran materi antar lapisan/strata
Pertukaran materi antar strata tjd melalui difusi dan sedimentasi. Difusi mempengaruhi perpindahan materi terlarut atau koloid, untuk membentuk kesetimbangan. Difusi menyebabkan terjadinya pergerakan partikel terlarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Sedimentasi hanya terjadi satu arah dari atas ke bawah dan akan mengakumulasi bahan organik di dasar perairan.




  1. DISTRIBUSI MAJOR ELEMENT DLM SISTEM AKUATIK
  • Di permukaan, tjd pembentukan senyawa-senyawa teroksidasi melalui fotosintesis 9terutama O2) dan senyawa yg bersifat basa (OH-), yg akan menyebabkan berkurangnya Ca2+ dan HCO3- terlarut yg disebabkan oleh pengendapan CaCO3 pd pH tinggi.
  • Di dasar perairan terjadi proses oksidasi bahan organik melepaskan CO2 shg lingkungannya menjadi asam dan kondisinya kurang teroksidasi. Terjadi pengurangan oksidator spt O2 dan SO4 dan peningkatan molekul dalam bentuk tereduksi spt H2O, H2S, Mn(II) dan Fe(II). Juga tjd peningkatan Ca2+ dan HCO3- karena pelarutan endapan CaCO3 pd kjondisi asam.

Gradien redoks dan gradien asam-basa sangat berpengaruh di lingkungan, oksidator biasanya berada di lapisan atas badan air dekat dengan atmosfer (bagian lingkungan yg lebih teroksidasi). Dalam tanah dan sedimen, sisa2 organisme yang telah mati dan difusi oksidator O2 dan SO4 membentuk gradien redoks vertikal di mana bagian yg lebih tereduksi berada di bagian bawah, sedangkan bagian yg lebih teroksidasi berada di bagian atas. Shg di dlm tanah dan sedimen profil gradien redoks dan konsentrasi menjadi sangat tajam karena tidak adanya proses pencampuran. Dalam badan air sebaliknya gradien redoks sangat dipengaruhi musim, dan dipengaruhi oleh adanya proses biologis.

  1. REGULASI MINOR ELEMENT DALAM SISTEM AKUATIK
Proses utama yg mempengaruhi regulasi minor element dalam di perairan (air laut dan air tawar) adalah konsentrasinya dan reaktivitasnya dengan senyawa yang memiliki sisi oksigen. Kebanyakan unsur akan tereliminasi dari laut dan umumnya diakibatkan karena bereaksi dengan sisi oksigen dari suatu senyawa. Karena umumnya unsur minor tidak membentuk senyawa volatil, maka proses eliminasi terjadi melalui proses sedimentasi, melalui fiksasi unsur minor pada partikel atau koloid yang terbentuk dalam badan air maupun dari pelapukan tanah. Koloid dan partikel ini umumnya memiliki gugus fungsional yang mengandung oksigen seperti –COO- dan –OH-.
Pengikatan unsur minor pada koloid dan partikel lain yg diikuti dengan proses sedimentasi merupakan mekanisme utama dalam mekanisme regulasinya. Ikatan ini biasanya terjadi melalui adsorpsi pada permukaan partikel (kompleksasi permukaan). Cara lainya adalah dengan pembentukan kompleks dengan makromolekul organik, teradsorpsi pada partikel anorganik, masuk dalam tubuh mikroorganism (di permukaan) dan setelah mati ikut tersedimentasi bersama biomassa.

  1. KLASIFIKASI SPESIES KIMIA DALAM SISTEM AKUATIK BERDASARKAN SIFAT DAN FUNGSINYA
Berdasarkan sifat dan fungsinya spesies kimia di perairan dibagi mjd 3 :
    1. senyawa yg dibentuk dr unsur mayor mempengaruhi kondisi kimiawi perairan melalui 4 type reaksi dasar yaitu asam-basa, redoks, kompleksasi/adsorpsi, dan presipitasi
    2. sifat unsur minor tergantung pada keempat kondisi di atas
    3. beberapa unsur minor seperti Zn, Cu, Fe merupakan unsur penting dan keberadaannya merupakan faktor pembatas produktivitas dan mempertahankan kehidupan
Proses biologis tidak dapat mengubah proses termodinamika suatu spesies kimia, tetapi hanya mempercepat reaksi. Misalnya dalam pembentukan gas dari bahan terlarut.
SIFAT-SIFAT KIMIA BADAN AIR DAN ANALISIS AIR
Secara alamiah air tidak pernah dalam keadaan benar-benar murni. Ketika uap air di atmosfer mengembun/hujan akan menyerap debu dan gas. Ketika mengalir di tanah melarutkan batuan dan senyawa organik lain. Hasil degradasi dr bahan organik spt nitrit, nitrat dan amonia juga akan larut ke dalamnya (Achmad, R p 21)
97% air terdapat di lautan, hanya 2,5% terdapat sebagai air tawar. Tetapi 75% air tawar terdapat sebagai es. Hanya 1% air tawar yg terdapat di danau, tanah dan sungai, dan 24% berada sebagai air tanah. Pemanfaatan air oleh manusia pd th 1975-an adalah 4000 km3/th dan mencapai 6000 km3/th 2000-an. Shg penyediaan air tawar yg terus meningkat dan kualitas air menjadi masalah. Meskipun ketersediaan air dlm skala global sesungguhnya tidak ada masalah tetapi ketersediaan air bersih sat ini menjadi problem terutama di kota-kota besar. Jml penduduk yg besar dan penggundulan hutan adalah 2 hal yg berperan dalam keseimpangan supply dan demand air bersih.

Polusi air
Pemanfaatan air bersih oleh manusia telah m,enurunkan kualitas air yitu dgn masuknya zat-zat pencemar. Pd mulanya polusi air buykanlah suatu masalah yang berarti karena akan dinetralkan ketika mencapai laut, tetapi ketika populasi manusia semakin bertambah, sungai dan laut tidak mampu lagi untuk menawarkan polusi yg dihasilkan. Polusi air merupakan masuknya materi kimia, biologi atau fisika ke dalam badan air secara berlebihan shg membahayakan bagi kehidupan biota termasuk manusia. Cemaran biologis meliputi bakteri patogen, virus, parasit, sedangkan cemaran kimia diantaranya adalah logam berat, unsur radioaktif, pestisida dan ion2 hasil degradasi senyawa organik. Cemaran fisika yg paling umum adalah suhu air. di lingkungan industri air digunakan sebagai pendingin akibatnya suhu air menjadi meningkat ketika air pendingin tersebut di alirkan kembali ke alam. Beberapa pabrik/pembangkit dilakukan proses pendinginan sebelum dialirkan ke sungai/laut.





Polutan kimia utama di hidrosfer
Jenis polutan
Sumber
Keterangan
Radioaktivitas
Industri/pembangkit nuklir, transport bahan nuklir dan uji coba nuklir
Efek thd kesehatan masih di perdebatkan
Bahan organik
Pestisida limbah pertanian, limbah industri dan domestikpolusi minyak di laut krn kecelakaan tanker
Membahayakan kesehatan dan merusak ekosistem perairan
Logam berat
Limbah industri, pertanian, rumah tangga, bahan bakar
Hg, Cd dan Pb sangat toksik
Asam
Pertambangan, limbah industri, deposisi dari atmosfer
Membehayakan ekosisitem akuatik, melarutkan logam-logam toksik
Nutrien
Pupuk dan limbah rumah tangga
Senyawa pospor dan nitrogen menyebabkan eutrofikasi

Biochemical Oxygen Demand
Air limbah yang dibuang ke sungai atau laut merupakan sumber pencemaran. Karena efek pengenceran, Konsentrasi polutan akan semakin berkurang dengan semakin jauhnya dr sumber buangan. Bakteri dalam air akan mendegradasi polutan organik dgn menggunakan oksigen terlarut (DO). Jml oksigen yang diperlukan utk mendekomposisi bahan organik per satuan volume air dsbt Biochemical Oxygen Demand (BOD). BOD dapat dijadikan sebagai ukuran tingkat pencemaran bahan organik. Jika bahan organik terlalu banyak dapat menyebabkan DO terlalu rendah shg tidak dpt mendukung kehidupan. (Radojevic p 140).
(CH2O)n + nO2 nCO2 + nH2O
Secara lengkap, degradasi bahan organik terjadi melalui aktivitas respirasi bakteri, fungi, protozoa dan binatang adalah (Libes p 132):
(CH2O)106(NH3)16H3PO4­ + 138O2 106CO2 + 122H2 + 16HNO3 + H3PO4
Dekomposisi polutan organik terjadi segera setelah polutan tersebut masuk ke badan air/sungai. Lokasi disekitar sumber masukan limbah organik dsbt zona polusi yg ditandai dengan rendahnya DO dan tingginya BOD, lokasi yg agak jauh dr sumber pencemaran dsbt zona dekomposisi yg ditandai rendahnya/minimum DO, dan daerah yg paling jauh disbt zona recovery di mana DO relatif meningkat dan BOD menurun.

ANALISIS AIR
Analisis air : danau, sungai, laut, estuari, air minum, industri atau air limbah, air hujan.
Berikut ini adalah konsentrasi ion-ion utama dalam air laut (mg/kg), dan sungai (mg/L)
Ion air laut air sungai
HCO3- 140 17,9 – 183
SO4= 2649 0,44 – 289
Cl- 18980 2,60 – 133
NO3- 2 0,30 – 1,9
Ca2+ 400 5,40 – 94
Mg2+ 1272 0,50 – 30
Na+ 10556 1,60 – 124
K+ 380 0,00 – 11,8

Ada banyak metoda yg telah dikembangkan untuk analisis air. beberapa test kit yg dpt digunakan di lapangan telah tersedia misalnya untuk analisis nutrien (fosfat, nitrat, silikat) yg umumnya berdasarkan pada metode kolorimetri dan elektrokimia maupun alat pengukur pH, suhu, daya hantar listrik maupun DO. Metoda analisis yang sudah menjadi prosedur standar analisis air misalnya APHA (American Public Health Association).

Tujuan analisis, (Radojevic p 9)
Maksud analisis lingkungan air dbedakan mjd 2 :
  1. utk menentukan background/latar, alami, konsentrasi bahan kimia di lingkungan air (background monitoring)
  2. utk menentukan konsentrasi polutan (pollution monitoring)
Background monitoring digunakan dalm studi tentang proses2 yg terjadi dlm lingkungan perairan, namun dengan semakin bertambahnya pencemaran, menjadi sulit untuk menentukan kadar suatu bahan kimia di lingkungan alaminya. Tujuan pollution monitoring :
  1. mengidentifikasi adanya ancaman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan
  2. membandingkan dengan standr nasional atau internasional
  3. menginformasikan kualitas lingkungan dan meningkatkan kepedulian terhadap isu2 lingkungan
  4. memberikan masukan kepada pembuat kebijakan
  5. untuk meneliti kecenderungan terjadinya polusi dan mengidentifikasi masalah yg mungkin muncul di masa depan
  6. dll

Tipe analisis
Bahan kimia yg akan ditentukan dari suatu sampel dsbt analit (ion, unsur, senyawa, dll). sampel dianalisis, dan analit ditentukan. Ada 2 kategori analisis kimia :
  1. kualitatif : identifikasi analit : apa
  2. kuantitatif : jumlah analit : berapa
hasil analisis kuantitatif biasanya dinyatakan dalam konsentrasi yaitu banyaknya analit (gram atao mol) per satuan banyaknya sampel (gram atau liter). Analisis kualitatif bertujuan utk mengetahui misalnya apakah Hg ada dalam sampel sedangkan analisis kuantitatif bertujuan mengetahui berapa banyak Hg dalam sampel tsb. Analisis kualitatif biasa digunakan untuk analisis rutin atau jika kadarnya cukup besar. Jika sampel tidak terdeteksi dalam analisis kualitatif bukan berarti tidak ada, tetapi mungkin kemampuan alat tidak mampu untuk mendeteksinya (ttd). Misalnya dalam analisis logam berat di laut seringkali tidak terdeteksi dengan alat AAS.

Pengambilan sampel dan penyimpanan
Jumlah sampel yg dikumpulkan tergantung pada jenis dan banyaknya analisis yg akan dilakukan. Analisis menyeluruh paling tidak memerlukan 2L air, sedang jika hanya akan menganalisis satu atau beberapa unsur saja, dpt diambil lebih sedikit sampel. Wadah yg akan digunakan tergantung jenis analisis dapat berupa plastik atau gelas. Untuk analisi DO diperlukan beberapa botol dengan volume tertentu pada saat pengambilan sampel.
Sampel yg diambil hanya berlaku untuk saat dan tempat di mana sampel diambil. Survay lebih menyeluruh memerlukan analisis secara temporal dan spatial (ulangan dan variasi lokasi). Komposisi sampel mungkin juga berubah selama transportasi dan penyimpanan yang disebabkan oleh aktivitas bikimia.
Air permukaan lebih mudal dalam pengambilan sampel dan tidak memerlukan alat yg spesifik tetapi utk mengambil sampel air pada kedalaman tertentu memerlukan alat selang dengan pompa atau dengan alat seperti gbr berikut :


Analisis paling baik jika dilakukan sesegera mungkin setelah pengambilan sampel, tetapi hal; ini kadang tidak memungkinkan sehingga diperlukan langkah pengawetan sampel. Misalnya untuk analisis DO memerlukan pengawet yg harus langsung ditambahkan di lapangan. Utk analisis nutrient (N & P) harus segera dilakuakan analisis karena adanya aktivitas metabolisme oleh mikroorganisme. Jika tidak langsung dianalisi harus dilakukan dengan cara (Radijevic p 153) :
  1. refrigerasi, menurunkan kecepatan reaksi biokimiawi tetapi tidak menghilangkan reaksi kimia maupun aktivitas bakteri. Kec reaksi pd 4 oC ¼ kali pada 25 OC.
  2. dibekukan, menghilangkan aktivitas bakteri dan reaksi kimia
  3. pengasaman, menurunkan aktivitas bakteri
  4. penambahan bakterisida, menghilangkan aktivitas mikroorganisme, misal kloroform dan Hg(II)klorida
Filtrasi
Filtrasi digunakan utk memisahkan partikel terlarut dgn partikel tersuspensi. Beberapa masalah dlm filtrasi :
  1. lolosnya partikel tak larut melalui kertas saring. Prosedur standar filtrasi mengunakan kertas saring dgn diameter pori 0,45 m. partikel koloid dan polimer tertentu dpt lolos
  2. kontaminasi, partikel/bahan dlm kertas saring terlarut dalam sampel dan ikut tersaring. Masalah muncul pd saat analisis tracew metal dalam sampel yg relatif bersih. Kertas saring dicuci asam terlebih dulu
  3. adsorbsi pd kertas saring
dalam analisis logam pengasaman dilakukan setelah filtrasi. Jika dilakukan sebelum filtrasi partikel logam yg tdk larut dapat larut dlm sampel. Utk sampel yg akan disimpan lebih baik difiltrasi terlebih dulu utk menghilangkan bahan biologis yg dpt bereaksi dgn analit.